ABURIZAL BAKRIE, Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra), mengaku pernah digampar kepalanya di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3, Setiabudi, Jakarta Selatan.
Waktu itu Ical, sapaan akrab Aburizal Bakrie; terlambat masuk ke ruang kelas karena sedang asyik jajan di salah satu warung di belakang sekolah. Kebetulan salah satu orang gurunya; yang terkenal galak, memergoki. Dan tak ampun lagi tangan kanan sang guru pun melayang ke kening bagian kanan. Plak! Ical pun sempat sempoyongan.
"Saya digampar dan sempoyongan," ujarnya sambil melukiskan tangannya menepuk kening bagian kanan dan berdirinya pun dibuat sedikit goyah.
Dulu waktu saya sekolah murid-murid tidak berani mengadu kepada orangtuanya bila mendapat tindak sewenang-wenang dari guru. Tidak seperti sekarang, pasti langsung mengadu ke orangtua,” katanya yang disambut ketawa oleh ratusan alumnus SMA Negeri 3, Sabtu (23/2) pada acara peresmian renovasi gedung sekolah tersebut yang rusak akibat kebakaran beberapa waktu lalu.
Itulah sekilas kisah pengusaha kakap tersebut yang lulus dari SMA Negeri 3 pada awal 1960-an. Buka kartu tersebut dikemukakan saat memberi sambutan sekaligus ’menimpali’ kisah Miranda Gultom, Deputi Senior Bank Indonesia, yang berpidato mewakili alumni.
Miranda adik kelas Ical yang lulus pada 1968 itu mengaku waktu itu dia terlambat masuk sekolah. Dan oleh satu orang guru dia dihukum berlari mengelilingi lapangan atau tepatnya halaman sekolah. Masih kisal Ical. Suatu saat dia juga mendapat hukuman dengan temannya bernama Elizabeth. ”Waktu itu dia dihukum menulis di papan tulis di dalam ruangan sekolah. Saking takutnya tangan teman saya itu tanpa sadar menulis sendiri karena gemetar,” katanya.
Kisah lain, waktu itu dia berada di lantai tiga gedung sekolah. Di teras dia bersama temannya bernama Ahmad. Siang itu ada pusaran angin sehingga membuat debtu di halaman sekolah (sekarang menjadi dimanfaatkan untuk lapangan basket). Guru tersebut bertanya kepada Ahmad apa yang sedang dilihat. Ahmad pun dengan lugu dan jujur menjawab sedang melihat angin.
”Mendapat jawaban tersebut pak guru marah, masak angin bisa dilihat. Dan, plak!, Ahmad pun mendapat ganjaran tamparan dari guru yang juga menggampar Ical.
Sabtu (23/2) lalu memang di SMA Negeri 3 diadakan acara renovasi gedung yang dihadiri oleh ratusan alumni. Hadir antara lain Effendi Simbolon anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, yang sengaja duduk di belakang sehingga Ical tidak tahu.
”Saya tidak tahu kalau saudara Effendi Simbolon juga alumni SMA sini,” katanya seraya minta kepada Miranda (selaku ketua yayasan di SMA tersebut) untuk membuat data base para alumni. ”Saya dengar Adhyaksa Dault juga alumni sini. Kalau ada data kita akan bisa lebih mengembangkan lebih lanjut, siapa tahu banyak pengusaha yang juga alumni SMA Negeri 3 ini tapi saya tidak tahu,” tambahnya.
Pada acara tersebut banyak alumni yang memberikan sumbangan, termasuk Miranda yang menyebut angka Rp25 juta. ”Kalau saya sebagai pegawai negeri hanya bisa menyumbang sedikit. Mungkin pak Ical Rp 25 miliar, karena beliau pengusaha,” ujarnya.
Lantas Ical menyumbang berapa? ”Saya minta kepada ibu Miranda untuk membuat program yang jelas. Dari situ kita nanti bisa melihat apa yang dibutuhkan sehingga lebih gampang mencari sumbangan,” kilahnya. (broto)
sumber: http://www.menkokesra.go.id/content/view/7422/39/
Keywords: aburizal, bakrie, ical