??? ???? ?????? ??????
?????????? ????? ????? ???? ??????????
MENSYUKURI NIKMAT ATAU MAU DILAKNAT
Situasi dan kondisi (kesibukan) manusia menyita waktu, pikiran dan tenaga sehingga terabaikan, menjadi lupa terhadap fungsi dan tugasnya, maka perlu ada yang mengajak dan mengingatkan untuk kembali kepada eksistensinya. Sebagian dapat menerima dan menyambut ajakan tersebut bahkan merasa senang dan berterimakasih sebab secara tidak langsung memberikan peluang dan kesempatan kepada mereka untuk meraih kasih sayang Allah.
Namun Ada sebagian umat yang menganggap ajakan itu akan menghambat kemajuan dan membawa kerugian, tidak menguntungkan. Sekali-kali tidak justru ajakan ini agar manusia mendapatkan keberuntungan. Umur yang dipakai kesibukan tidak bisa mencegah kematian dan Harta yang kita konsumsi pasti akan mengalami nisbi dan tidak akan bertambah hoki, kecuali yang dapat kita bagi kepada dhuafa dengan lillah, semata untuk mendapatkan keridhaan yang widi.
(107:1-4) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
Berkaitan ibadah memang yang baik sukarela, tanpa harus dibujuk dan diajak dengan senang hati adalah niat ikhlas lillahi tala, Alhamdulillah bila sudah kita laksanakan seperti diKatakan “Inna salati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil alamin” dalam surat (6:162): sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Namun ada yang dalam kenyataan “inna salati wa suzuki, wa yamaha, sumpah mati bila lom ngalamin”. (4:125). Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.
Bicara takdir wajib kita imani, adalah suatu peristiwa yang sudah terjadi, sedangkan yang sedang berjalan adalah suatu proses yang disebut ketentuan yang harus diikuti atau aturan yang harus kita penuhi…(Alquran itu bertugas untuk memberikan kabar gembira, seruan, ancaman, dan peringatan bukan hanya petunjuk saja, tetapi sekaligus memberi pembeda dan ultimatum…bukan berarti sudah ibadah lantas masuk Surga…bisa saja masuk Neraka, kalau tidak memenuhi syarat, rukun dan kaifiatnya….artinya ada ketentuan, demikian pula yang kita bahas…bila bersyukur menjadi makmur dan bila kufur (berpaling=tidak bersyukur) bisa saja jadi hancur lebur… (ini kan bala bencana…)
Persis seperti yang diutarakan bahwa keburukan sekecil apapun pasti dapat ganjaran sebagaimana dalam surat (99:7). Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (99:8). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. Maka Allah menjelaskan dalam Firman-firmannya yang berkaitan dengan kondisi bersyukur atau kufur (mengingkari), yaitu:
(108:1). Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. (begitu luas dan buanyaknya nikmat yang Allah anugrahkan kepada kita hingga tidak terhitung jumlahnya. (16:18). Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (14:34). Dan dia Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (10:1) Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (78:1) Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur).
Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. Maka wajarlah sebagai manusia yang peka dan memeiliki perasaan dikasihani dan disayang Allah sehingga wajiblah berterimaksih (bersyukur) dengan beribadah termasuk mengeluarkan sedekah dan Qurban, sebagai pengorbanan atau upaya pendekatan untuk senantiasa dicintai dan disayangi Allah…
2. Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah [yang dimaksud berkorban di sini ialah menyembelih hewan qurban dan mensyukuri nikmat Allah.. (14:7). Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Tabi'at manusia itu tidak mau melepaskan sebahagian haknya kepada orang lain dengan seikhlas hatinya, maka (7:147) Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui. Allah mensyukuri hamba-hamba-Nya: memberi pahala terhadap amal-amal hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahannya, menambah nikmat-Nya.), dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (inilah siksaa)
(53:1) Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, artinya Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.
(41:7) Jika kamu kafir (berpaling) (57:24) (yaitu) orang-